Berita Hawzah – Hujjatul Islam Sayyid Mahmoud Nabavian, anggota parlemen Iran dari Teheran, menyatakan bahwa bangsa Iran tetap menjadi pilar utama kekuatan dalam setiap keterlibatan diplomatik. Ia menegaskan bahwa dukungan rakyat secara konsisten telah memperkuat Republik Islam dalam menghadapi tekanan musuh.
“Poin terpenting yang harus dipahami adalah bahwa tulang punggung Revolusi ini adalah rakyatnya,” kata Nabavian dalam wawancara dengan Kantor Berita Hawzah. “Dukungan rakyat inilah yang memungkinkan Republik Islam berdiri teguh menghadapi berbagai tekanan permusuhan.”
Ia menyebut bahwa musuh-musuh Iran mengalami kegagalan dalam perang 12 hari yang dipaksakan baru-baru ini serta dalam gelombang kerusuhan berikutnya, dan kini tengah mempertimbangkan tekanan militer lebih lanjut. Namun ia memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap Iran tidak akan terbatas pada konfrontasi bilateral semata.
“Pesan bangsa Iran jelas: perang apa pun tidak akan tetap terbatas. Itu akan berubah menjadi perang regional,” ujarnya. “Seluruh kepentingan militer, ekonomi, politik, dan budaya Amerika Serikat di kawasan akan menjadi sasaran.”
Menurut Nabavian, justru posisi penangkal (deterrent) inilah yang memaksa Washington untuk mencari jalur perundingan.
“Mereka yang memohon untuk berunding,” katanya, seraya menambahkan bahwa Teheran sejak awal menetapkan syarat-syarat tegas. “Mereka mengangkat isu rudal; kami katakan itu sama sekali tidak bisa dinegosiasikan, dan mereka menerimanya. Mereka mengusulkan Turki sebagai lokasi; kami bersikeras di Oman, dan mereka menyetujuinya.”
Anggota parlemen itu juga mengungkapkan bahwa pihak Amerika meminta kehadiran tujuh menteri luar negeri dari negara-negara kawasan dalam perundingan, namun Teheran menolaknya. “Mereka mundur lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Washington juga menginginkan partisipasi Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pembicaraan tersebut, sebuah usulan yang ditolak Iran. “Sekali lagi mereka mundur. Pada tahap ini, mereka telah menerima seluruh syarat kami karena berada dalam posisi lemah,” tegas Nabavian.
Menjawab pertanyaan mengenai alasan Iran tetap bersedia berunding meski memiliki ketidakpercayaan mendalam terhadap Amerika Serikat, Nabavian mengatakan bahwa tujuan Teheran adalah membangun konsensus regional dan menunjukkan komitmennya terhadap diplomasi.
“Mengapa kami menerima perundingan? Untuk membangun konsensus regional dan menunjukkan bahwa bangsa Iran adalah bangsa dialog,” katanya. “Namun jika ada pihak yang memilih jalan perang melawan Republik Islam Iran, mereka akan menerima respons yang menghancurkan.”
Ia menyatakan keyakinannya bahwa sebagaimana Amerika Serikat gagal dalam konfrontasi sebelumnya dan upaya-upaya destabilisasi terhadap Iran, negara itu juga akan kembali mengalami kegagalan.
“Insya Allah, sebagaimana Amerika gagal dalam perang 12 hari yang dipaksakan dan ditolak oleh rakyat Iran dalam kerusuhan, mereka sekali lagi akan dikalahkan dalam arena ini,” pungkasnya.
Your Comment